Mengapa Kita Harus Melanjutkan Studi ke Jenjang Magister / Doktor?

Refleksi Diri Melalui Pendidikan

Seberapa Penting Pendidikan S2/S3

Mengutip dari laman Badan Pusat Statistik, Hingga bulan Februari 2023 tercatat 12% dari seluruh masyarakat tuna karya merupakan lulusan sarjana/diploma yang diakumulasi hampir mencapai 1juta orang di Indonesia. data ini menunjukan bahwa, terlepas dari faktor internal maupun eksternal masih banyak masyarakat di Indonesia yang sukar mendapatkan pekerjaan yang layak bahkan pasca menyelesaikan pendidikan skala Universitas. Fakta ini menjadi bentuk prihatin mengingat keterjaminan masyarakat dalam pencarian rezeki tidak sesuai dengan harapan pada saat melangsungkan kuliah.

Stigma yang muncul adalah pendidikan tidak berbanding lurus dengan pekerjaan yang akan didapat atau diraih. Memahami lebih dalam terkait statement yang diberikan Ki Hajar Dewantara terkait Pendidikan yakni “Pendidikanlah yang sebenarnya menuntun menemukan kekuatan kodrat masing diri seseorang itu sendiri”, Kekuatan kodrat ini menjadi dasar bagaimana kita bertahan dan berbaur dengan kehidupan, yang seharusnya menjadi bekal awal dalam mencari sebuah pekerjaan atau profesi. Lalu bagaimana dengan melanjutkan pendidikan, sedangkan masih banyak sarjana yang terpaksa untuk menganggur karena kesulitan mendapatkan pekerjaan?

Dalam dunia pekerjaan, tersebar isu sosial terkait dengan dikotomi antara teori dan praktik, yang berdampak pada kurangnya kepeminatan melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Maraknya startup dan UMKM yang mengedepankan softskill dan pengalaman bekerja dibanding jenjang pendidikan menjadi fenomena yang dilematis. maka dari itu pemahaman terkait diri tentang apa tujuan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya memang harus diperhitungkan dengan baik sejak awal. Alasan mengapa harus melanjutkan kuliah ke jenjang magister atau doktor, pemilihan prodi yang tepat, hingga pembiayaan yang memang relative lebih pricy dari pada saat jenjang strata I.

Cermati kedua hadits Rasulullah ini:

تَعَلّمُواالعِلْمَ وَتَعَلّمُوْا لِلْعِلْمِ السّكِيْنَةَ وَالْوَقَا رَ وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَتَعَلّمُوانَ مِنْهُ

 

Artinya: “Belajarlah kalian ilmu untuk ketentraman dan ketenangan serta rendah hatilah pada orang yang kamu belajar darinya.” (HR Thabrani).

 

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 

Artinya: “Jika seorang manusia mati, maka terputuslah darinya semua amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim no. 1631).

Sejak zaman Rasulullah SAW, mengutip dari matan hadist diatas bahwa Personal Branding  sudah harus dibentuk sebaik mungkin, pemanfaatan Ilmu, rendah hati, dsb merupakan bagian dari pembentukan karakter untuk meningkatkan profesionalitas dalam berkehidupan, salah satunya dalam dunia pekerjaan atau ranah profesional. Pendidikan ini menjadi salah satu cara yang harus ditempuh karena menjadi wadah atau media untuk meningkatkan profesionalitas seseorang. maka dari itu melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya berbanding lurus dengan pengangkatan derajat / value  seseorang dalam berkarier.

Pascasarjana menggunakan metode critical analystic yang mengharuskan mahasiswa berfikir lebih mendalam dan seluas-luasnya pada suatu permasalahan atau fenomena yang terjadi, lalu dikaji dan menemukan konklusi yang lebih tepat. Selain itu pengembangan relasi juga menjadi salah satu jalan, mengingat relevansi prodi yang dipilih, akan bertemu orang-orang yang telah memiliki karier yang baik dan dapat berkolaborasi dalam kegiatan tertentu, memperluas portofolio dan jejaring kerja. Maka dari itu, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang selanjutnya dirasa sangat penting karena sebagai investasi pada pribadi untuk menciptakan jejaring yang lebih luas dan memahami metode yang tepat dengan menanamkan konsep atau polapikir baru yang hanya ditemukan dalam dunia Pascasarjana.

Allahu ‘Alam