Artificial Intelligence pada Penulisan Artikel Berbasis Jurnal, Penulisan Artikel Otomatis?

Sudah terdengar desas-desus penulisan artikel jurnal memakai AI. Apakah itu sah atau tidak, apakah boleh menggunakan AI dalam pekejaraannya seseorang? Pertanyaan-pertanyaan ini sering diutarakan pada diskusi AI, dan banyak opini-opini yang disuarakan.Program yang akan didiskusikan pada artikel ini adalah ChatGPT yang sudah banyak digunakan kemanfaatannya disegala sektor pekerjaan.

ChatGPT adalah model AI percakapan yang dikembangkan oleh OpenAI. Ini didasarkan pada arsitektur GPT (Generative Pre-trained Transformer), khususnya GPT-3.5. Model ini dilatih pada sejumlah besar data teks dari berbagai sumber, yang memungkinkannya menghasilkan respons seperti manusia terhadap input pengguna. ChatGPT unggul dalam memahami dan menghasilkan percakapan bahasa alami. Itu dapat terlibat dalam dialog tentang berbagai topik, menjawab pertanyaan, memberikan penjelasan, menawarkan saran, dan bahkan menceritakan lelucon. Ini menggunakan konteks dari pesan sebelumnya untuk menjaga koherensi dan relevansi sepanjang percakapan.

Proses pelatihan model melibatkan pembelajaran tanpa pengawasan, di mana ia belajar dari pola dalam data pelatihan tanpa instruksi khusus atau contoh berlabel. Hal ini memungkinkan ChatGPT untuk menggeneralisasikan pemahamannya dan menghasilkan respons berdasarkan pengetahuan yang diperolehnya.

Namun, penting untuk diperhatikan bahwa meskipun ChatGPT dapat menghasilkan respons yang mengesankan dan koheren, terkadang ChatGPT juga dapat menghasilkan jawaban yang salah atau tidak masuk akal. Itu tidak memiliki pemahaman waktu nyata tentang dunia atau akses ke informasi terkini di luar tanggal batas pengetahuannya, yaitu pada September 2021.OpenAI mendorong pengguna untuk secara kritis mengevaluasi dan memverifikasi informasi yang diberikan oleh ChatGPT, terutama untuk pertanyaan yang sensitif terhadap waktu atau sensitif secara faktual.

Bisa disimpulkan, penggunaan ChatGPT bukanlah untuk copy-paste secara instant dan kita mendapatkan informasi. Pemakaian AI lebih disarankan untuk dimiliki moderasi manusia, karena selain AI tidak akan bisa mengerti konteks dan bahasa manusia, AI juga bisa mendapatkan fakta yang salah. Dengan kata lain, AI dipakai untuk mempermudah penulisan juga memberikan inspirasi atau dasar jika kesulitan dalam pembuatan jurnal. 

Hingga kini masih terjadi kontroversi terkait penggunaan AI dalam penulisan artikel akademik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa AI dapat menjadi salah satu metode untuk memudahkan sebuah perancangan penulisan. Mengutip dari hasil konferensi yang dinamai The International Conference on Machine Learning (disingkat ICML) bahwa penulisan seluruh jenis makalah/artikel  akademik yang berasal dari Large-scale Language Model ini tidak diperbolehkan. Kecuali penulisan yang bersifat esai eksperimental analisis.

Dengan munculnya hasil dari konferensi tersebut, menjadi sebuah polemik dari beberapa wilayah perusahaan teknologi dan didunia akademisi itu sendiri. Sebagian berbicara terkait orisinalitas sebuah karya ilmiah, dan yang lain berbicara terkait dengan pemanfaatan teknologi untuk mempercepat perputaran informasi. ICML tersebut akan kembali dievaluasi di tahun yang akan datang.

 

Author : Fathan