Bandung, uinsgd.ac.id—Kota Bandung bersiap menjadi pusat perhatian dunia akademik internasional. Setelah sukses diselenggarakan di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam pada akhir 2025 lalu, konferensi bergengsi International Conference on Islam in the Malay World (ICON IMAD) kini memasuki babak baru. Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung secara resmi memegang tongkat estafet untuk menyelenggarakan gelaran ke-15 yang dijadwalkan berlangsung pada 27 hingga 29 Juli 2026.
Perhelatan ini bukan sekadar rutinitas akademik tahunan, melainkan sebuah manifestasi komitmen kolektif bangsa-bangsa di Asia Tenggara untuk mempertahankan, mengaji, dan mendefinisikan kembali jati diri Islam di Tanah Melayu di tengah gempuran modernitas dan disrupsi digital.
Jejak Estafet: Dari UNISSA ke UIN Bandung
Perjalanan ICON IMAD XV dimulai pada momentum emosional di Balai Khazanah Islam Sultan Haji Hassanal Bolkiah, Brunei Darussalam. Pada Selasa, 7 Oktober 2025, ICON IMAD XIV yang diselenggarakan oleh Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) bersama mitra strategis seperti Universiti Malaya (Malaysia) dan Prince of Songkla University (Thailand), resmi berakhir dengan catatan gemilang.

Konferensi ke-14 tersebut berhasil memetakan isu-isu krusial mengenai tantangan jati diri Melayu Islam di era global. Namun, yang paling krusial bagi publik akademik Indonesia adalah momen pada 8 Oktober 2025. Di hari tersebut, Rektor UNISSA secara resmi menyerahkan mandat kepada Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung (Prof. Dr. H. Ahmad Sarbini, M.Ag). Penyerahan simbolis ini menandakan bahwa beban dan kehormatan sebagai host selanjutnya kini berada di pundak institusi pendidikan tinggi Islam tertua di Jawa Barat tersebut.

Bagi UIN Bandung, mandat ini adalah tantangan besar. Sebagai universitas yang memiliki sejarah panjang dalam penguatan moderasi beragama dan kajian keislaman, menjadi tuan rumah ICON IMAD XV adalah panggung untuk menunjukkan kapasitas intelektual sekaligus keramahan budaya lokal (Sunda) kepada dunia internasional.
Diplomasi Akademik: Memperkuat Jaringan Strategis
Menyadari besarnya skala acara, panitia yang dikomandoi oleh jajaran pimpinan Pascasarjana UIN Bandung bergerak cepat melakukan serangkaian diplomasi akademik sejak awal tahun 2026. Langkah pertama dimulai pada 13 Maret 2026, ketika Direktur Pascasarjana (Prof. Dr. H. Ahmad Sarbini, M.Ag), beserta jajaran melakukan kunjungan konsultasi ke Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Pertemuan ini menjadi sangat strategis mengingat UIII merupakan lembaga pendidikan tinggi bertaraf internasional yang memokuskan diri pada kajian Islam sebagai peradaban. Dalam diskusi tersebut, disepakati bahwa konektivitas antara pakar-pakar dari kedua instansi akan diperkuat, khususnya untuk mengisi pos-pos pembicara kunci pada sesi workshop hari pertama konferensi. Tema mengenai “Malay-Islamic Eco-theology as Cultural Resilience in the Multipolar Era” diharapkan tidak hanya dipandang dari sudut pandang sejarah, tetapi juga melalui kacamata sosiologis dan geopolitik kontemporer.

Tak berhenti di situ, panitia juga memastikan dukungan dari pemangku kebijakan lokal. Pada 23 April 2026, audiensi dilakukan bersama Walikota Bandung. Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Kota Bandung menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung kesuksesan ICON IMAD XV.

Dukungan ini mencakup fasilitasi logistik serta memastikan kenyamanan para delegasi mancanegara selama mengeksplorasi keindahan dan kuliner Kota Kembang. Kolaborasi ini mempertegas posisi Bandung bukan hanya sebagai “Kota Jasa”, melainkan juga sebagai “Kota Pengetahuan” (City of Knowledge).

Dukungan Tertinggi: Restu dari Lapangan Banteng
Puncak dari rangkaian diplomasi ini terjadi pada 5 Mei 2026. Bertempat di kantor Kementerian Agama RI, Jakarta, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag., bersama Ketua Panitia ICON IMAD XV, Prof. Dr. H. Dindin Solahudin, MA., dan jajaran pimpinan lainnya menghadap Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.

Pertemuan tersebut membuahkan hasil yang menggembirakan. Menteri Agama menyatakan kesediaannya secara langsung untuk hadir sebagai Keynote Speaker sekaligus membuka secara resmi gelaran ICON IMAD XV. Kehadiran Menag yang juga merupakan tokoh intelektual Islam terkemuka memberikan legitimasi kuat terhadap konferensi ini. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa isu “Malay-Islamic Eco-theology as Cultural Resilience in the Multipolar Era” merupakan agenda prioritas dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai kiblat peradaban Islam moderat di dunia.

Menuju BRIN: Integrasi Riset dan Teknologi
Agenda besar berikutnya yang tengah dipersiapkan panitia adalah kunjungan konsultasi ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Direncanakan, panitia akan bertemu dengan Kepala BRIN, Prof. Arif Satria, dengan tujuan mengajak lembaga riset tertinggi di Indonesia tersebut untuk terlibat aktif.
Kehadiran BRIN dalam ICON IMAD XV diharapkan mampu membawa perspektif baru, yakni bagaimana integrasi antara nilai-nilai keislaman dan riset sains teknologi dapat berjalan beriringan untuk kemajuan bangsa Melayu. Keterlibatan Kepala BRIN sebagai pembicara pembuka di hari pertama akan menjadi magnet tersendiri bagi para peneliti dan akademisi muda yang tengah fokus pada pengembangan inovasi berbasis nilai-nilai lokal.
Panggilan untuk Intelektual: Jadwal dan Ketentuan
Seiring dengan bergulirnya persiapan administratif, panitia juga mengingatkan para peneliti, akademisi, dan praktisi untuk memperhatikan tenggat waktu krusial yang telah ditetapkan. Berdasarkan jadwal resmi, fase pendaftaran dan pengiriman abstrak akan berakhir pada 31 Mei 2026. Ini adalah pintu masuk bagi siapa saja yang ingin menyumbangkan pemikiran mereka dalam panggung internasional ini.
Setelah melalui proses seleksi yang ketat, pengumuman abstrak terpilih akan dilakukan pada 10 Juni 2026. Peserta yang dinyatakan lolos kemudian diberikan waktu hingga 12 Juni 2026 untuk menyelesaikan proses pembayaran registrasi, guna mengamankan slot presentasi dalam program konferensi.
Fase krusial selanjutnya adalah pengiriman manuskrip utuh (Full Paper) yang jatuh pada 14 Juni 2026, diikuti dengan pengumuman final penerimaan naskah pada 15 Juni 2026. Penjadwalan yang sangat padat di bulan Juni ini menunjukkan komitmen panitia untuk menjaga kualitas literatur dan hasil riset yang akan dipresentasikan nanti.
Harapan dan Visi Masa Depan
ICON IMAD XV bukan sekadar ajang berkumpulnya para profesor dan pemegang gelar doktor. Lebih dari itu, konferensi ini adalah sebuah “kawah candradimuka” bagi gagasan-gagasan segar untuk menjawab tantangan zaman. Di tengah arus globalisasi yang seringkali mengikis akar budaya, “Malay-Islamic Eco-theology as Cultural Resilience in the Multipolar Era” menawarkan model keberagamaan yang inklusif, toleran, dan kaya akan kearifan lokal.
Dengan tema-tema yang mencakup sejarah, hukum, pendidikan, ekonomi syariah, hingga media dan teknologi, ICON IMAD XV diharapkan melahirkan rekomendasi-rekomendasi konkret yang dapat dimanfaatkan oleh umat dan negara. Sebagaimana pesan dari konferensi sebelumnya di Brunei, upaya mempertahankan jati diri Melayu Islam adalah kerja panjang yang membutuhkan kolaborasi lintas batas negara.
Bandung, dengan udara sejuknya dan semangat kreativitasnya, telah siap menyambut para intelektual dari Malaysia, Brunei, Thailand, Filipina, hingga luar Asia Tenggara. ICON IMAD XV di UIN Sunan Gunung Djati Bandung diprediksi akan menjadi salah satu catatan sejarah terpenting dalam dinamika intelektual Islam di kawasan Melayu pada tahun 2026.
Mari bersiap, kumpulkan riset terbaik Anda, dan sampai jumpa di Bandung!
Redaksi UIN Bandung
Laporan: Humas Panitia ICON IMAD XV 2026
Foto: Arsip Audiensi Kemenag & Pemkot Bandung








